Muhammad Teladanku

Muhammad  Teladanku

Minggu, 05 April 2009

Dari indonesia green sampai sosok pemimpin

Tergoda juga memang untuk punya motor. .....
Apalagi sekarang2 ini, pengeluaran ongkos angkutan umum yang lumayan besar
Pikir-pikir lagi kalo ada 2 motor di rumah, tercapai juga punya kendaraan beroda 4...walaupun pisah...:)
Ditambah pula usaha/bisnis yang mulai menuntut aktivitas tinggi dan siap pergi ke sana ke mari.Sempet juga terpikir beli sepeda yang menggunakan aki, hitung-hitung ikut berpartisipasi dalam rangka indonesia green n bebas polusi asap kendaraan.....

mmm ngomong-ngomong , program indonesia green n bebas serba asap... seperti anjing menggonggong kafilah berlalu....
awal-awalnya aja hangat dibahas...selanjutnya realita pula yang berbicara...
contohnya semakin hari semakin banyak orang memakai kendaraan bermotor, angka penjualan motor pun seperti cukup naik. Saya hanya melihat secara kasat mata aja sih, dimana teman terdekat sudah hampir menggunakan motor, dengan alasan ngirit ongkos -praktis-ga ngrepotin suami lagi dalam masalah antar mengantar.....

berbicara dengan masalah kebijakan pemerintah khususnya di jakarta pun, sepertinya belum memihak dalam hal mensukseskan jakarta hijau n mengurangi polusi kendaraan...
Terutama masalah pembatasan mobil pribadi belum berani diangkat dalam kebijakan, malah urusan kemacetan dialihkan kepada anak-anak sekolah untuk dimajukan jam belajarnya menjadi jam 6.30.
Kemudian masalah angkutan dan kemacetan , terlihat busway belum cukup mengatasi masalah transportasi, malah menambah kemacetan baru. Karena dari jumlah busway yang ada belum mampu mengangkut banyaknya penumpang. Mobil2 mewah semakin banyak beredar, apalagi motor.Sehingga dalam pelaksanaan mengatasi kemacetan dan polusi untuk kota jakarta belum seimbang satu sama lain.
(analisis pribadi.....boleh khan kita berpendapat :) )

Kenapa belum berimbang? apa karena proyek semata, sehingga dalam pengambilan keputusan bukan berdasarkan kebutuhan, data-data dan analisis yang kuat ? ...mmh entahlah.....

Kadang ruwet memang kalo memikirkan negara ini yang serba terhambat karena birokrasi.....
Idealisme menjadi barang yang langka karena birokrasi, sehingga tumbuh pemikiran di kalangan umum terutama dalam mengabdikan profesi di lingkungan pegawai negeri..."ah jangan sok idealis lah" , atau" lu khan masih muda belum tahu apa-apa, wajar deh idealis ...tapi ntar lama-lama juga kaya gw....kagak mikir idealis lagi".

Di bidang politik juga banyak cetusan-cetusan....."Ah lu tahu apa sih ma politik,politik itu kotor tahu,ntar juga kalo udah nyemplung lu jadi orang ga bener, mikirin diri sendiri"

Mmmm kenapa pesimis dan menyerah sih ma keadaan, bukan berusaha melakukan perlawanan terhadap keaadaan yang demikian ternoda.Saya yakin Allah pasti selalu memberi jalan keluar bagi orang yang mau berusaha ?kenapa harus negatif thinking...

Btw omong2 masalah politik, dari dulu saya selalu berpikir dan mencari2 jawaban kenapa politik itu kotor. Dalam benak saya ....masa sih Allah menciptakan sesuatu itu untuk keburukan?..pasti untuk kebaikan donk. Wong Dia yang tahu segala kualitas kita dari dalam sampe luar kok.
Politik itu khan digunakan untuk kekuasaan dan sekaligus pengaturan tatanan manusia(kalo ngga salah).Dan semua itu diarahkan untuk kemaslahatan bersama, dan ketika kekuasaan itu merugikan masyarakat, berarti orang yang berkuasalah yang bersalah bukan kekuasaan. Karena kekuasaan hanya sebagai sebuah sarana untuk kebaikan itu.

Apa jadinya bila kekuasaan itu selalu ada pada tangan orang2 yang dzalim-beringas-tak memihak kepentingan bawahan?

Kemudian apa jadinya pula bila semua orang merasa pesimis dan takut bahkan tidak mau tahu akan kekuasaan/politik yang berguna untuk kemaslahatan orang banyak? Bagaimana negara ini berjalan?

Pendapat saya :mendukung orang-orang yang memang berniat baik untuk membangun bangsa ini ke arah yang lebih baik, dan terus berpositif thinking bahwa negara ini bisa bangkit (u are what u think).

Masyarakat juga perlu mengawasi dan menegur serta mengoreksi bahkan menyuruh mundur orang-orang pilihannya nanti ketika menjadi pembuat kebijakan dan berkuasa itu melakukan tindakan yang merugikan dan tak berpihak pada kebaikan orang banyak. Yah ibaratnya saling bantu membantulah, ada peringatan, koreksi dll.

Lagipula ketika seorang manusia ada di puncak politik dan kekusaan , dia juga harus melawan segala macam tantangan yang berat dan melenakan dan penuh resiko.Ditambah siap menerima konsekuensi dari apa yang telah dilakukannya nanti.

wah rupanya tulisan ini menjadi melebar......kalo gitu saya tutup saja tulisan ini dengan hikmah yang saya copy dari sebuah blog
//fadhil.blogsome.com ;


Khalifah Umar bin Abdul Azis pernah gemetar ketakutan. Bukan karena menghadapi musuh di medan pertempuran. Tetapi ketika beliau mendengar cerita tentang alam akhirat.

Semua perbuatan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Di akhirat kelak setiap manusia akan diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Manusia akan terlempar ke neraka jika tidak bisa melewati jembatan itu. Sebaliknya, manusia tersebut akan menikmati keindahan surga jika bisa melewati jembatan itu.

Setiap manusia akan menemui kesulitan dan kemudahan yang beragam saat berjalan di atas jembatan shiratal mustaqim. Jika selama hidup di dunia, manusia itu banyak beramal saleh, ia akan mudah melewatinya. Jika tidak, iaakan sulit berjalan di atas shiratal mustaqim. Bahkan, besarkemungkinan iaakan terlempar dan jatuh ke jurang neraka di bawahnya.

Hal itu membuat banyak orang khawatir. Tentu saja. Sebab, kita tidak pernah tahu secara pasti apakah selama di dunia kita tergolong orang yang banyak beramal saleh atau justru banyak berbuat dosa. Nah, perasaan itu juga dirasakan khalifah Umar bin Abdul Azis. Apalagi waktu khalifah Umar bin Abdul Azis mendengar cerita seorang hamba sahaya tentang mimpinya di suatu hari.

Umar bin Abdul Azis tertarik waktu hamba sahaya itu bercerita. “Ya, Amirul Mukminin. Semalam saya bermimpi kita sudah tiba di hari kiamat. Semua manusia dibangkitkan Allah, lalu dihisab. Saya juga melihat jembatan shiratal mustaqim.”

Umar bin Abdul Azis mendengarkan dengan seksama. “Lalu apayang engkau lihat?” tanyanya.

“Hamba melihat satu per satu manusia diperintahkan berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Penguasa Bani Umaiyah, Abdul Malik bin Marwan, hamba lihat ada di antara orang yang pertama kali dihisab. la berjalan melewati jembatan shiratal mustaqim. Tapi, baru dua langkah, dia sudah jatuh ke dalam jurang neraka. Saat ia jatuh, ubuhnya tak terlihat lagi. Hamba hanya mendengar suaranya. la terdengar menangis dan memohon ampun kepada Allah,” jawab hamba sahaya itu.

Umar bin Abdul Azis tertegun mendengar cerita itu. Hatinya gelisah.

“Lalu bagaimana?” ia bertanya dengan gundah.

“Setelah itu giliran putranya, Walid bin Abdul Malik bin Marwan. Ia juga terpeleset dan masuk ke dalam jurang neraka. Lalu tiba giliran para khalifah yang lain. Saya melihat, satu per satu mereka pun jatuh. Sehingga tidak ada yang sanggup melewati jembatan shiratal mustaqim itu,” kata sang hamba sahaya.

Umar bin Abdul Azis tercekat karena merasakan takut dan khawatir dalam dadanya. Sebab, ia juga seorang khalifah. la sadar, menjaga amanah kepemimpinan dan kekuasaan itu sangat berat. Dan ia punyakin, setiap pemimpin harus bisa mempertanggungjawabkan kepemimpinannya. Tidak ada seorang pun yang akan lolos dari hitungan Allah.

Jantung Umar seketika berdegub kencang. Nafasnya memburu. Ia cemas, jangan-jangan nasibnya akan sama dengan para pemimpin lain yangdikisahkan hamba sahaya itu. Karena cemas dan takut, Umar bin Abdul Azis meneteskan air mata. Ia menangis.

“Ya, Allah. Apakah aku akan I bernasib sama dengan mereka yang dilihat hamba sahaya ini di dalam mimpinya? Apakah aku telah berlaku tidak adil selama memimpin? Pantaskah aku merasakan surga-Mu, ya Allah?” bisik Umar bin Abdul Azis di dalam hati. Air matanya kian deras mengalir.

“Lalu tibalah giliran Anda, Amirul Mukminin,” kata hamba sahaya itu.

Ucapan hamba sahaya itu menambah deras air mata Umar bin Abdul Azis. Umar kian cemas. Kecemasan Umar membuat tubuhnya gemetaran. Ia menggigil ketakutan. Wajahnya pucat. Matanya menatap nanar kesatu sudut ruangan.

Saat itu, Umar bin Abdul Azis mengingat dengan jelas peringatan Allah SWT, “Ingatlah pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. Dikatakan kepada mereka, “Rasakanlah sentuhan api neraka”

Hamba sahaya itu justru kaget melihat reaksi khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa. Dalam hati, ia merasa serba salah. Sebab, ia sama sekali tidak punya maksud untuk menakut-nakuti khalifah. Ia sekadar menceritakan mimpi yang dialaminya.

Melihat kepanikan khalifah, hamba sahaya itu lalu berusaha menenangkan Umar bin Abdul Azis. Namun, Umar bin Abdul Azis belum bisa tenang. Maka, hamba sahaya itu pun meneruskan ceritanya dengan berkata, “Wahai, Amirul Mukminin. Demi Allah, aku melihat engkau berhasil melewati jembatan itu. Engkau sampai di surga dengan selamat!”

Mendengar itu, Umar bin Abdul Azis bukan tersenyum apalagi tertawa. Ia diam. Cukup lama Umar tertegun. Cerita itu benar-benar membuatnya berpikir dan merenung.

Ada hikmah yang lalu dipetik Umar dari cerita itu. Dan sejak itu, ia menanamkan tekad untuk lebih berhati-hati dalam amanah kekuasaan. Itu adalah amanah Allah yang sangat berat.


Wallahu alam bishowab

lagi-lagi karena beda cover:)

Lagi-lagi masalah perbedaan...

Masih banyak diantara kita alergi ya tentang perbedaan ?

mungkin hanya perkiraan saya saja ya ?

Karena ketika saya berinteraksi dengan beberapa orang di sekolah, selalu melihat kulit kita alias memakai "baju" apa kita. Ketika berkomentar pun pasti orang akan melihat saya sebagai orang x....mmmm atau saya sebagai orang berkepribadian x....

Ato sebagian yang lain akan bersikap a bila tidak ada saya, namun bersikap b jika saya ada ?

mmm aneh....kenapa ga di floor kan ...beraninya di belakang...

Padahal saya terasuk seseorang yang tertarik dengan perbedaan2 itu, karena saya bisa menggali latara belakang orang tersebut bisa bertindak dan berbicara x. Kemudian kita pun bisa belajar dan memperbaiki sikap bila ada orang yang berpandangan beda dan mengkritik kita....itu bagus toh! berarti mereka masih peduli ....!

Karena saya pun perlu mendapatkan pandangan dari sisi yang berbeda ten tang diri walaupun ekstrim. Toh itu bisa membuat diri kita lebih baik....