Muhammad Teladanku

Muhammad  Teladanku
Tampilkan postingan dengan label pandangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pandangan. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Desember 2008

Menjadi guru ?

Dahulu tak pernah terpikirkan dan terucap dalam kata-kata tentang cita-cita menjadi guru sedari kecil. Singkat cerita jadilah aku  sekarang menjadi seorang guru....
Teman SMP ku mengatakan ,"Hah, kamu jadi guru?’, kemudian megatakan juga ke temenku yang lain,” bisa ngomong juga tuh anak !", mmh what's wrong with me.......
Pernah tetangga sebelah mengatakan....."bagaimana tuh dia, diem banget, kalau jadi guru gimana ya ?"
Rekan guru pernah juga bertanya, "Emang Ibu bisa marah juga sama anak-anak ?"
Nah sekarang yang ada dalam pikiranku, memangnya guru itu dipandang masyarakat seperti apa ya? Ataukah profesi guru hanya untuk orang-orang berkarakter tertentu? yang tipe banyak bicara, bisa marah-marah sama anak murid ? apa cuma sekedar itu ?
Kalo saya flashback kembali masa lalu saya, mungkin karena kekcewaan saya terhadap sikap seorang gurulah yang mengantarkan saya untuk menjadi seorang guru ( ini hanya kasuistik loh)
Mungkin pandangan itu sepintas bak pahlawan kesiangan yang menolong psikologis anak-anak nusantara, ceile...
Namun dari kondisi itulah saya bertekad untuk selalu berusaha menjadi guru yang bermanfaat, supaya anak-anak didik saya dapat tumbuh kembang bebas sesuai bakat dan minatnya dan nyaman dengan dirinya sendiri,dan bisa mengatasi tekanan psikologis yang menghambat perkembangannya….
Supaya anak-anak di sekolah tidak mengalami seperti saya yang pernah tak percaya diri untuk mampu mengembangkan segala potensi dan bakat terpendam, tak kreatif dan tak nyaman dengan sindiran-sindiran negatif yang mengalahkan optimisme untuk berkembang.
Saya ingin anak-anak di sekolah  itu mengalami kenyamanan dengan segala atribut diri yang telah dianugrahkan Allah kepadanya...
Saya ingin anak-anak itu memiliki paradigma berpikir positif terhadap segala hal tentang dirinya
Saya ingin anak-anak itu memiliki optimisme yang kuat dalam menghadapi kehidupan
Saya ingin anak-anak itu memiliki ketahanan diri dalam menghadapi kelatahan globalisasi yang menyerang dari segala sudut
Saya ingin anak-anak itu mengenal dirinya dan Rabb pencipta
Saya ingin anak-anak itu menjadi generasi Rabbani yang mendapatkan ridho Ilahi
wallahu 'alam

Kamis, 04 Desember 2008

diskusi anak-anak

Kamis siang saat jam pelajaran terakhir di kelas 9-1
Maklumlah biasanya pada jam terakhir anak-anak pada males dan bawaannya pengen pulang ajah.
Kebetulan pekan kemarin anak-anak itu kuberi tugas kelompok mengenai karakteristik profesi yang ideal. Alhasil mereka cukup puas dan 'ga bete' karena mereka bisa bebas berpendapat tentang opini mereka masing-masing. Ada yang bengong bingung, ada yang mikir benar, ada yang serius, ada yang ga jelas....ga tahu kenapa. Tapi semua kebingungan mereka terselesaikan karena kudatangi mereka kelompok per kelompok untuk mengatasi kebingungan tentang diskusi yang ditugaskan untuk mereka.
Singkat cerita berdasarkan tugas kelompok yang kemarin, aku memanggil dua kelompok laki-laki untuk presentasi hasil tugas kelompok dan membuka dialog serta diskusi untuk kedua kelompok tersebut. Agak sulit memang mengkondisikan anak-anak muridku yang mungkin dari segi bakat,minat berbeda dengan sekolah unggulan setingkat smp negeri lainnya.Namun ku terus berharap bahwa harapan itu masih ada.....
Diskusi pun melesat pada topik  tentang pandangan kelompok laki-laki tentang perempuan yang  bekerja / wanita karir.
Riski namanya , dia tetep 'keukeuh' bahwa perempuan tidak usah bekerja kalau sudah berumah tangga, cukup si suami yang membanting tulang menafkahi keluarganya.
Pendapatnya menjadi bahan sorakan temen-temen perempuan lainnya....."hu hu hu....ga adil....",seru mereka
Rani menunjuk jarinya ingin berpendapat, " istri/perempuan boleh bekerja karena untuk membantu suami dalam mencukupi kehidupan rumah tangga donk, apalagi kalau duit yang diberikan suami kecil alias gak mencukupi "
pendapat itupun dikomentari kelompok laki-laki yang di depan "masih mending dikasih "
Faroki, salah satu kelompok lainnya ngoceh "istri itu di rumah aja, jaga anak, nyusui anak....!"
"hu hu hu.....ga bisa gitu...." grup perempuan ga mau kalah
Dimas yang bergaya bijaksana ngomong keras-keras: "boleh boleh perempuan kerja asal ada ijin suaminya "
Rani pun menambahkan ," Iya ga pa pa , lagian kalo istri bekerja itu juga karena dia memiliki kemampuan dan bermanfaat untuk masyarakat kok...misalnya guru ..ayo..!"
Riski yang tetep 'keukeuh' berpendapat bahwa istri tetep tidak boleh bekerja , bersikeras tidak setuju dengan pendapat Rani.
Alhasil suasana kelas ramai, alias semua berkomentar, aku pun berusaha menengahi ....
"Perhatian sebentar..." , setelah semua diam aku melanjutkan....." Ada sebuah kisah seorang laki-laki yang sempurna ", beberapa saat siswa perempuan menyahut, "ngga mungkin ada bu...."
" Sebentar tolong dengarkan sebentar , Ibu belum selesai,laki-laki itu adalah Nabi Muhammad SAW" .Semua terdiam........
"Rosulullah adalah sosok yang sempurna, beliau adalah bapak yang sangat menyayangi anaknya, bapak yang bijaksana, suami yang lemah lembut terhadap istrinya, tak pernah berkata kasar terhadap istrinya" , " Bahkan tak jarang Rosulullah menjahit pakaiannya sendiri yang robek tanpa meminta bantuan istrinya, beliau juga tak sungkan untuk mencuci bajunya sendiri...."
Siswa perempuan menimpali..."so sweet...."
Anak laki-laki kuperhatikan sempat terpaku,entah apa yang ada di benak mereka.
Akupun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membuka wawasan meraka tentang peran masing-masing gender yang masih konvensional, dan menjelaskan sidikit bagaimana agama Islam memandang tentang peran masing-masing. Aku berharap mereka 'melek' terhadap semua itu dan mereka mengenal  ada sosok teladan tentang seorang bapak dan kepala rumah tangga.

Bahwa ada sosok teladan tentang seorang laki-laki yang memiliki keistimewaan yang ternyata memiliki kepekaan dan sensitifitas yang tinggi terhadap perempuan, yang mungkin belum banyak diadopsi oleh laki-laki pada saat sekarang. Karena dalam pikiran mereka laki-laki adalah hanya sebagai  sosok powerful dan berpengaruh yang dimiliki dalam kehidupan rumah tangga,
***
Kesimpulan akhir kelompok....Riskipun berbicara , " dalam kehidupan rumah tangga harus ada saling menghormati dan mengahrgai satu sama lain...."

tahun 2008