Muhammad Teladanku

Muhammad  Teladanku

Sabtu, 29 November 2008

Tentang film Laskar Pelangi

Tadi pagi di meja piket, di sela jam kosong mengajar, aku berbicara dengan bu yeni seorang guru honor yang sedang dalam kondisi menunggu 'sk' sampai di tangannya. Singkatnya sk itu baru bisa diambil dengan sesendok 'upeti' yang sungguh berat tuk dipenuhinya.Bukan karena idealisme yang membuat dia tidak bisa memenuhi 'permintaan dzalim' tersebut. Tapi karena memang tak cukup daya untuk memberikan walau sesendok upeti tersebut.......
** 
Kapan lingkaran-lingkaran tersebut berhenti ? Mungkin keadaan nya berbeda dengan diriku dan kelima temanku di sekolah tempat ku bertugas. Dulu kami mendapatkan keberuntungan , dengan lulus tes tanpa 'wawancara' yang biasanya membicarakan sebuah 'upeti'.......
Untuk kondisi bu yeni yang (hampir 10 tahun mengajar) ....dia termasuk dizhalimi...... 
**
Pembicaraan kami pun beralih pada tugas yang diberikannya kepada anak -anak tentang komentar dan hikmah yang dapat diambil setelah menonton LASKAR PELANGI.
Hasil komentar dan pendapat anak-anak menurutnya masih klise dan hanya seputar keberuntungan sebagai seorang siswa di jakarta yang tidak menempuh perjalanan yang panjang menuju sekolah seperti kisah laskar pelangi.

Kemudian dia bertutur, " saya kok ga melihat bagusnya film tersebut, ceritanya hambar dan hanya berisi informasi sebuah tempat dan kejadian. orang-orang yang menonton tampaknya terhibur karena sudah baca novelnya,bagi saya yang ketika menonton belum baca novelnya, film tersebut kurang menarik, tidak menampilkan sebuah kejadian yang membuat kita berfikir"

Lanjutnya" Dan saya pikir siswa2 kita pun mungkin hanya menangkap sinyal yang samar tentang pesan dalam kisah laskar pelangi,kalau mereka tidak baca novelnya.Benar saja setelah saya baca novelnya,.... ruh penceritaannya begitu menarik, saya baru dapat inti dan pesannya"
*
Temanku ini memang seorang sosok yang sangat teliti menurutku. Segala sesuatu dilihat dengan detail.Dia memperhatikan satu persatu tokoh yang bermain dalam film tersebut sampai pada baju yang dipakai pemainnya(cocok atau tidak dengan pakaian pada tahun peristiwa itu terjadi), pemain figuran pun ia perhatikan.Dan aku bisa mulai memahami komentar-komentarnya.

ku sendiri tertegun tanpa berkomentar dan menanggapi, karena memang aku sendiri belum nonton filmnya . Namun sudah membaca novelnya, ditambah sang pemimpi kisah lanjutan si laskar pelangi......

Yang membuatku tertarik adalah bagaimana dahsyatnya sikap, performance, dan aura seorang guru bisa mempengaruhi & membangkitkan gelora , motivasi belajar laskar pelangi....

Kemudian rasa simpatikku kepada orang tua ikal dalam kisah kedua "sang pemimpi' dalam mendidik anaknya menuju gerbang pendidikan,mmh.... aura dan ruh apa yang dimiliki orang tuanya?sehingga daat memilki anak seperti itu, pikirku.
**

Kemudian kami berdiskusi ....." di filmnya tidak digambarkan bagaimana sosok seorang guru yang membangkitkan motivasi belajar siswanya, malah yang ditonjolkan bu guru muslimah memiliki kerja sambilan sebagai penjahit pakaian. Jadi bukan seni mengajarnya "kata bu yeni

" Kalo di film-film barat( ttg pendidikan) yang pernah kutonton misalnya khan ada sebuah dialog yang biasanya membuat kita... terbawa suasana dan berfikir tuh, kalo di laskar ada ndak bu ?kataku .
bu yeni menyahut " ya ga ada tuh...menurut saya pokoknya banyak yang hambar aja dari penggambaran ceritanya , apalagi guru yang diperankan tora , kayaknya aneh aja menurutku"
***
Hasil kesimpulanku sementara dari pembicaraan tadi.......

" Oh nasibmu guru, negeri ini sudah lupa tentang jasa baikmu dulu......, seolah-olah kini paradigma keikhlasan guru dalam mendidik ,sudah hampir punah dalam perpustakaan imajinasi. sehingga dalam penuturan cerita di sebuah drama dan film pun terlupakan penggambaran "aura positifnya".

Ada apa dengan "sosok pejuang tanpa tanda jasa"itu kini.................

selanjutnya........terserah anda