Muhammad Teladanku

Muhammad  Teladanku

Sabtu, 29 November 2008

Komunikasi dalam rumah tangga

Sebut saja cahaya, bukan nama sebenarnya. Cahaya adalah sahabat lama ketika kami bersekolah. Sempat terkejut ketika mengetahui tentang "masalah" yang dikatakannya lewat telepon. **
Singkatnya dia mengatakan " Aku sudah capek , rasanya gak sanggup lagi untuk menanggung beban ini, kenapa yah masalah datang bertubi-tubi menghampiri. Dia hampir tak memperdulikan aku lagi,sikap nya sudah membuat aku sangat sakit dan kecewa....." 

Setelah di'korek' akar permasalahannya, ditemukan hasil analisis sementara berdasarkan informasinya: 
pertama, hubungan komunikasi dengan suaminya sudah tidak harmonis lagi, bisa dikatakan 'ga nyambung' lagi. 

Ketika diajukan saran supaya cahaya berbicara kembali dari hati ke hati dengan suaminya dalam membahas masalahnya bersama.....cahaya menimpali " sudah gak bisa , kalo kumulai pembicaraan pasti dia berusaha menghindar, dan kalau kutumpahkan semua perasaanku padanya pasti dia marah dan semakin tidak peduli padaku"

kedua, bentuk komunikasi 'error' tersebut sudah berlangsung lama,sejak awal pernikahannya, yang sekarang hampir menginjak angka 7 tahun !!
***
Yang ingin saya selami dari ilustrasi tadi adalah tentang komunikasi pasangan suami istri. Hal ini bukan masalah asing bagi kehidupan rumah tangga. Namun imbasnya dari permasalahan yang bernama 'komunikasi' ini sangat dalam dan sering membuat goyah biduk sebuah lembaga rumah tangga.

Terkadang teori yang ada pun, tidak cukup membendung masalah 'komunikasi' ini.
****
Teringat saya, pernah mengikuti seminar penikahan ketika masih di bangku kuliah. Ada seorang nara sumber mengatakan ;"marah juga harus dikomunikasi, bukan dipendam" (bukan marah yang membabi buta loh ). maksudnya ketika kita tidak tersinggung, tidak suka , ada perasaan marah, hal-hal tersebut sebaiknya dikomunikasikan dengan pasangan. 

Misalnya" Ibu tidak suka kalau ayah lebih mementingkan pekerjaan di luar, daripada di rumah ", " Ayah tersinggung tentang omongan ibu tadi pagi".
Tapi ingat ekspresi ini hati-hati penempatannya, jangan pada situasi sedang rentan konflik, tapi ditampilkan ketika suasana santai. Nah ketika ekspresi itu keluar, pasti pasangan kita akan menanyakan ulang...kenapa, memang kenapa, tadi saya ngomong apa, dan berbagai pertanyaan konfirmasi. Dari situlah akhirnya akan terjadi pembicaraan panjang dan berbagai pendapat keluar. 

Singkatnya, setelah berbicara panjang lebar , masing-masing menjadi tahu apa yang sebenarnya terjadi....
Hal tersebut dilakukan sejak awal pernikahan dimana sering terjadi konflik2 kecil pada pasangan suami istri, jangan dipendam terlalu lama.

Coba baca buku 'diary pengantin', pengarangnya Izzatul jannah. Dalam buku itu ada kisah konflik komunikasi suami istri yang menarik untuk dicermati....


*****
nb; ketika kita menikah , berarti kita siap menerima kelebihan dan kekurangan dari pasangan kita, bagaimanapun kita bersikeras "mengubah" nya , dia adalah dia yang memiliki atribut kelebihan dan kekurangan sejak dia lahir hingga bertemu kita pada saat sekarang. Sehingga bukan merubah 'kepribadian' pasangan kita namun diperlukan sikap toleran dan penyesuaian diri terhadap pasangan kita

wallahu 'alam bishowab