Muhammad Teladanku

Muhammad  Teladanku

Sabtu, 29 November 2008

Sejenak tentang arti pernikahan

Pukul 13.10 kutunggu mikrolet tuk mengantarkanku pulang. Di bawah sinaran mentari yang cukup terik sekarang ini, berharap dapat posisi yang nyaman tuk beristirahat sejenak melepas lelah sepulang mengajar. Selang beberapa menit, kudapati mikrolet sebagai kendaraan menuju tempat favorit(rumah idaman).

Alhamdulillah, akhirnya dapat kursi depan..... Biasanya tempat duduk favoritku setelah pulang kerja memang di kursi depan mikrolet, kebetulan sebelahku perempuan. Kunikmati perjalanandi mikrolet itu dengan melihat pemandangan kota Jakarta ini tanpa melewati sesuatu yang terlintas disepasang mataku ini. Sejenak kudengar sopir mikrolet berceloteh ringan , kadang umpatan kadang sebuah canda yang tak bararti buatku.

Tiba di jalanan sempit di sekitar muara yang berkelok-kelok, sopir itupun dengan gesit memainkan setir mobilnya, sebuah konsentrasi yang baik menurutku. Karena kalau bukan orang yang sudah kenal jalan ini dan ahli pasti akan sulit ‘menikuk-nikuk ‘ dengan tepat setirnya. Beberapa saat kemudian si sopir melihat seorang gadis yang lewat berhadapan dengan mikolet yang aku tumpangi, sopir mikrolet pun mengeluarkan kata-kata mutiara khas seorang pemuja wanita…..

Gadis tersebut dengan sigapnya berpaling dengan pandangan sinis tanda tak suka, si sopir pun menanggapi sikap sang gadis dengan tak mau kalah dengan mengoceh sendiri “ Istri abang di kampung juga tak kalah cantik neng , putih lagi I”

'celoteh' sang sopir itu membuat pikiranku mulai berbicara ….

Ada apa dengan sebuah status pernikahan di negeri ini ? Kenapa begitu mudahnya dia menggoda gadis lain selain istrinya , di sisi lain bila ditolak dia juga tak mau kalah bahwa dia juga memilki wanita yang tak kalah dengan gadis yang digodanya . Apa hanya itu arti seorang istri, hanya sebagai bahan tandingan , atau sebuah kepastian akan sebuah status ? Apa yang ada di pikiran dan pemahamannya ?

Kubuka file- file global di setumpuk pikiran dan memori otakku........

Yang kutahu menikah itu adalah untuk menyempurnakan dien/agama. Seorang bujang dan gadis diibaratkan hanya memiliki separuh agamanya, dan ketika menikah maka lengkap alias sempurna agamanya.

Artinya ketika single, dalam melakukan ibadah biasanya masih berkeliling dalam benaknya sebuah pujaan hati yang dapat memenuhi suasana hatinya sehingga konsentrasi ibadah menjadi kurang focus dan dimungkinkan mempengaruhi ketulusan hati dan kebersihan niat.

Hal itu wajar karena memang kita diciptakan memilki kecendrungan untuk berbagi terhadap lawan jenis kita. Nah dengan menikah , permasalahan tersebut teratasi.......

"Menikah adalah untuk membantu memberi ketenangan hati, karena kita memiliki teman seperjuangan dalam meniti kehidupan yang penuh dengan gelombang kehidupan, memilki teman sebagai penyemangat hidup, merasa mempunyai tempat untuk curahan hati, dan sebagai tempat perlindungan bagi pasangannya dan sebagai hal-hal yang romantic lainnya. Karena fitrah berpasangan itulah , Hawa diciptakan sebagai teman hidup Adam untuk mewarnai hari-hari kehidupannya…."( demikian file yang ada di otakku berbicara )

Aku masih termenung dengan beberapa fenomena sekarang yang menjadikan pernikahan hanya sebagai status.Merasa aman kalo dia sudah memilki istri /suami, hanya sekadar punya, namun bukan untuk saling berbagi. Tidak mengiraukan bahwa dengan pernikahan itulah , kita dapat mengisi hari-hari kehidupan bersama pasangannya. 

Sehingga mungkin ada seorang istri yang mengomentari prilaku buruk suaminya di luar dengan mengatakan :" Ah biarlah ( bernada pasrah ) yang penting di rumah masih betanggung jawab sama keluarga, masa bodoh dengan sikapnya di luar "

Atau tak peduli dengan sebuah tanggung jawab keluarga, yang penting toh sudah punya istri/suami, anak...cukup sampai di situ. Tak terpikirkan bahwa dengan keluargalah kita dapat meraih banyak pelajaran hidup dan tantangan hidup yang muaranya untuk bekal amal kita nanti di akhirat.

**

Tapi mungkin dapat kumaklumi dengan pemahaman 'sopir' yang kebanyakan lemah dari segi keilmuan, apalagi pengetahuan agama. Sholat dan puasa pun banyak dari mereka tak mengerjakannya. Entah karena tak paham, terpengaruh lingkungan, atau tak mau tahu.....

***

Akhirnya sampai juga mikrolet-ku di depan komplek rumahku........Kuakhiri pergulatan kata-kata dan wacana pemikiran yang menari-nari di kepalaku.Kuberharap supaya Allah memberikan kekuatan iman dan sikap istitiqomah untuk diriku dan keluargaku tercinta untuk dapat meraih ridho-Nya.amin

wallahu 'alam bissowab

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir” (Ar-Ruum 21)

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah” (Adz Dzariyaat 49)

“Dialah yang menciptakan kalian dari satu orang, kemudian darinya Dia menciptakan istrinya, agar menjadi cocok dan tenteram kepadanya” (Al-A’raf 189)

“Dunia ini dijadikan Allah penuh perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan hidup adalah istri yang sholihah” (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya” (HR. Thabrani)